Usai masa tugas Mayjen Sang Nyoman, dilanjutkan oleh Mayjen TNI (Mar) Nono Sampono. Kemudian ketua selanjutnya dijabat seorang berlatar belakang politisi, Setya Novanto. Dia adalah sosok ketua pertama dari kalangan sipil asal Jawa Barat (Jabar).
Selepas Setnov, pengusaha sukses dan politisi asal Makassar A. Reza Ali. Ia mengemban tugas sebaga Ketua Pengurus Pusat PERTINA periode 2012 – 2016.
Usai masa jabatan Reza Ali, kepemimpinan Pengurus Pusat PERTINA diamanahkan kepada seorang Pati dari Keolisian Republik Indonesia (Polri) yakni Irjen Pol Johni Asadoma. Seorang atlet tinju berprestasi di masanya. Johni yang saat ini menjabat Wakil Gubernur NTT atlet tinju Indonesia pernah tampil di Olimpiade 1984 Los Angeles, Amerika Serikat.
Berikutnya, Ketua Umum PERTINA dijabat oleh seorang purnawirawan jendral bintang dua, Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak. Kemudian, amanah Ketua diemban seorang sipil, Dr. Hillary Brigitta Lasut, SH, LLM. Politisi perempuan ini adalah anggota DPR RI Komisi XI dari Fraksi Partai Demokrat. Hill, begitu ia akrab disapa terpilih secara aklamasi pada Musyawarah Nasional (Munas) PERTINA pada 2 Agustus 2025 dan menjadi perempuan pertama memimpin PERTINA.
Ironis memang. Meski pengurus Perbati tahu PERTINA adalah satu-satunya induk olahraga tinju yang diakui oleh pemerintah Indonesia, namun berbagai macam cara mereka lakukan agar bisa eksis. Yang lebih iornis karena Kementrian Pemuda dan Olahraga kecolongan. Percaya begitu tipu daya yang dilakukan oleh sejumlah oknum tanpa melakukan koordinasi dengan mitra kerjnya yakni Pengurus Pusat Komite Oleh Nasional Indonesia (PP KONI).
