PERTINA.OR.ID, JAKARTA | Perjuangan para jendral TNI dan Polri mendirikan Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PERTINA) sebagai satu-satunya organisasi cabang olahraga (cabor) tinju amatir di negeri ini sejak 30 Oktober 1959, sama sekali tak dihargai oleh Pengurus Perbati dan Ketua KOI. Lebih diperparah lagi karena Menteri Pemuda dan olahraga (Menpora) ikut mendukung. ‘Bersekutu’ demi ‘mendualismekan’ cabor tinju.
Padahal Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati) yang mengklaim dirinya sebagai organisasi cabor tinju, baru lahir pada 3 Mei 2025 lalu. Organisasi ini diketuai Ray Zulham Farras Nugraha. Putra ketiga Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan.
Sejak dideklarasikan, pengurus cabor ini tiba-tiba ingin mengambil alih peran PERTINA. Berbagai macam cara dilakukan. Bahkan dengan cara-cara tidak terhormat. Termasuk mengklaim sejumlah atlet berprestasi yang lahir dari sasana binaan PERTINA yang dibina bertahun-tahun.
Ironis memang. Karena pejabat di Kemenpora sejak jaman Dito Ariotedjo hingga kini dijabat Erick Thohir mendukung organsiasi ilegal tersebut. Padahal keduanya tahu PERTINA adalah satu-satunya induk organsiasi cabor tinju yang telah melahirkan ribuan, bahkan jutaan atlet berprestasi di negeri ini sejak lahir 67 tahun silam.
Karenan itu Pengurus PERTINA di Seluruh Indonesia meminta Presiden Prabowo Subianto yang juga seorang yang berlatar belakang TNI berpangkat jendral dan tokoh olahraga di negeri ini, turun tangan. Menegur Erick Thohir yang sama sekali tak menghargai perjuangan para jendral pendiri PERTINA.
”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Itu penegasan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno. Kalau ada pejabat dan anak pejabat yang tidak menghargai jasa pahlawannya, itu berarti mereka adalah orang-orang sombong yang tak mau tahu sejarah bangsa ini,” tegas Sri Syahril, Sekretaris Pengurus Provinsi (Pengprpv) PERTINA Sulsel yang juga Sekretaris Bidang Humas Pengurus Pusat PERTINA.
Menurutnya, makna kalimat yang sering diucapkan oleh Presiden Soekarno setiap memperingati hari pahlawan adalah kemajuan sebuah bangsa diukur dari sejauh mana generasi penerusnya menghargai nilai-nilai perjuangan pendahulu mereka.
”Kalau seorang pejabat seperti Erick Thohir tak bisa menghargai dan meneladani jasa dan semangat para pendahulunya, itu berarti rasa nasionalisme dan sikap kesatria dalam membangun negeri ini, patut dipertanyakan,” tegas Sri, sapaanya.

Kepala Staf TNI AU periode 1973 – 1977, adalah Ketua Umum PB PERTINA periode cukup 1971 – 1988 dikenal sebagai Bapak Tinju Indonesia. (DOK)